Lupita Craft – Utamakan Kualitas Karya

Veronika Ibnu Purwaningsih, owner Lupita Craft

Veronika Ibnu Purwaningsih resmi memulai kiprahnya sebagai pengrajin sulam pita sejak 2004 silam.

Sebagai newbie di bidang craft, Ipung, sapaannya, memulai bisnis dengan menawarkan jasa sulaman untuk suvenir dan tas, sembari memperdalam keterampilannya menyulam pita. Suatu hari, dia mendapat pesanan untuk menyulam untuk kerudung instan. Kebetulan saat itu, sekira tahun 2005, kerudung instan bersulam pita tengah ngetren di Tanah Air.

Ipung pun kebanjiran pesanan. Dari awalnya hanya menyulam 3 kodi per minggu, meningkat menjadi 30 kodi per minggu. Untuk memenuhi banyaknya permintaan sulam kerudung, Ipung sampai mempekerjakan 30 karyawan yang adalah tetangga sekitar rumahnya.

Meski sempat menikmati masa kejayaan sebagai seorang pengrajin, tak berarti perjalanan bisnis Ipung lantas berjalan mulus. Ketika muncul pesaing yang menawarkan tarif jasa sulam jauh lebih rendah, Ipung menolak untuk perang harga.

Dia memilih melepas order kerudung instan ketimbang memberikan upah yang sangat rendah untuk para karyawannya.

Aneka tas, dompet dan pouch berhiaskan motif sulaman pita kreasi Lupita Craft

Berkurangnya pesanan membuat Ipung harus turut merelakan karyawannya, dari 30 orang kini menjadi 5 orang saja. Bersama karyawan yang tersisa, Ipung mulai membangun brand baru bernama Lupita.

Lupita disebutnya sebagai proyek idealismenya sebagai pengrajin, di mana dia menumpahkan kreativitas dan kekayaan teknik sulam pitanya dalam berbagai produk buatan sendiri, seperti dompet, clutch, sling bag, tote bag dan berbagai jenis tas lainnya.

Melalui Lupita, Ipung ingin menghapus imej bahwa produk sulaman hanya cocok untuk orang tua. Sebaliknya, dia ingin produk sulam pita digemari semua umur, khususnya kawula muda.

Sambil mengeksplorasi ide, Ipung pun harus mengikuti selera pasar dan produk kompetitor. Dia juga kerap mengikuti pameran, baik yang bertaraf lokal maupun nasional, untuk memperkaya ide dan mendapat masukan dari sesama pengrajin, serta untuk menemukan ciri khas sulamannya.

Ipung bertugas mendesain motif sulaman yang akan dikerjakan timnya.

Pada 2012, setelah melalui lima tahun proses penggalian diri, Ipung mulai menemukan signature-nya. Dia menekankan pada kualitas sulaman yang kecil, detail namun tetap menawan. Dia tak mau mengejar kuantitas produk Lupita agar signature karyanya tidak koyak oleh target.

“Untuk menghasilkan karya masterpiece dibutuhkan kesabaran dan kreativitas, tidak bisa kalau diburu-buru. Apalagi sebagian besar penyulam saya adalah ibu rumah tangga, yang punya kesibukan mengurus rumah tangga. Saya mau lari sekencang apapun, kalau yang di belakang (karyawan) tidak mendukung, kan juga tidak bisa jalan,” tutur ibu tiga anak ini.

Menurut Ipung, tantangan terbesarnya dalam membangun Lupita adalah dirinya sendiri. Semakin dia tidak punya rencana atas bisnisnya, maka semakin sering dia mengambil pilihan yang salah.

“Dulu, saat saya tidak tahu apa yang saya mau, berakibat pada seringnya saya salah ambil keputusan dan itu yang membuat modal keluar tanpa arah dan berakhir di lemari. Dari banyak kritik dan saran, saya mulai menemukan jati diri saya. Setelah menemukan saya itu yang seperti apa dan fokus pada ciri bisnis itu, semua jadi terkendali,” katanya. [LAU]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *