MaenKain – Meraup Berkah dari Kain Perca

Noorva Susanti, owner MaenKain Handmade di workshopnya, Perumahan Beringin, Ngaliyan, Semarang.

 

Noorva Susanti tak pernah menyangka, idenya memanfaatkan kain perca sisa produksi mukena dan sajadah, mengarahkannya pada ladang rezeki. Rupiah yang dihasilkannya dari aplikasi kain perca tak hanya membawa berkah bagi dirinya, namun juga pada belasan karyawan dan ratusan mitra bisnisnya.

Bisnisnya dinamai MaenKain. Artinya, permainan kreativitas berbahan dasar kain. Awalnya, bisnis ini hanya sebagai pekerjaan sampingan Noorva yang sudah terlebih dahulu menekuni usaha pembuatan mukena dan sajadah untuk dewasa dan anak.

Seiring dengan tingginya permintaan mukena dan sajadah, kain perca sisa produksi pun makin menumpuk. Tak ingin kainnya terbuang sia-sia, Noorva memutar otak untuk memanfaatkan sisa kain itu.

“Saya coba tempelkan kain perca itu pada blacu, dibikin tema, lalu dijahit jadi bantal bergambar. Setelah itu, saya foto dan unggah di media sosial. Ternyata kok banyak yang suka lalu pesan, katanya unik,” tutur wanita kelahiran Cepu, 1 Juli 1972 ini.

Melihat respon pasar yang positif, Noorva semakin bersemangat merangkai lembar demi lembar kain perca menjadi sebuah tema gambar yang bercerita. Produk yang dihasilkannya juga makin bervariasi, dari bantal merambah ke korden, tas, dompet, taplak meja, dan aksesoris rumah tangga lainnya. Masukan dari para pelanggan turut menambah variasi produk MaenKain.

Aneka produk kreasi MaenKain Handmade

Bertumpu pada metode pemasaran online, membuat usahanya semakin berkembang dari hari ke hari. Noorva yang tadinya membuat produk satuan sesuai ketersediaan kain perca, kini mulai menerima pesanan khusus dalam jumlah besar untuk suvenir pernikahan, ulang tahun dan acara komunitas.

Tak hanya itu, produk MaenKain juga dilirik masyarakat yang ingin ikut mendulang keuntungan dari bisnis ini. Dengan senang hati, Noorva pun membuka jalur kemitraan dengan sistem beli putus (reseller). Kepada para reseller, Noorva tidak pernah membatasi kuantitas minimal pembelian. Bahkan, para reseller juga diberi keleluasaan menggunakan label sendiri pada produk bikinan Noorva.

Noorva mengaku tak khawatir produknya diklaim sebagai produksi orang lain. Baginya, lebih penting agar produksinya bisa terus berjalan dan membawa pemasukan untuk menghidupi para karyawan ketimbang menjaga eksklusivitas label.

“Saya malah senang karena produk saya bisa membawa berkah untuk orang lain,” ujar pengusaha yang memiliki ratusan reseller ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *