Trasty Batik – Terapkan Bisnis ala Semut

Bermula dari seringnya mendampingi UKM mengembangkan usahanya, Naneth A Ekopriyono yang seorang trainer dan pengajar lantas tertarik untuk menjajal peruntungan di dunia handicraft

Sembilan tahun belakangan, Naneth A Ekopriyono menekuni bisnis handicraft berlabel Trasty Batik. Di sela kesibukannya sebagai mentor dan pengajar, wanita bernama asli Bernadette Natalia Sari Pujiastuti ini mengaku tertarik menjajal peruntungan sebagai pebisnis lantaran terbiasa berinteraksi dengan pelaku UKM.

Dari awalnya sekedar mendampingi para pelaku UKM mengembangkan usahanya, Naneth pun tertarik untuk bekerjasama dengan para pengusaha mikro tersebut. Awalnya, Naneth, yang penyuka batik tulis lawasan, kemudian menyodorkan batik tulis miliknya untuk diolah menjadi tas dan sepatu yang cantik nan elegan.

Tas dan sepatu batik itu kemudian dipamerkannya di situs www.trastybatik.com dan akun jejaring media sosial Facebook. Meski aktif mengikuti berbagai pameran, namun Naneth mengakui, selama ini dia lebih bertumpu pada pemasaran online. Cara ini dinilai lebih efektif dalam menjangkau pasar yang lebih luas. Hasilnya, banyak orang melihat dan membeli produk buatannya.  Tidak sebatas di dalam negeri, produk Trasty juga telah diekspor ke beberapa negara di Eropa.

Seiring berjalannya waktu, inovasi pun dilakukan. Kini produk Trasty tak hanya tas dan sepatu batik, namun juga dompet, tempat pensil, kalung, tas seminar, asesoris, kerudung lukis, suvenir dan berbagai kerajinan tangan lainnya. Targetnya pun makin terarah, dari semula untuk konsumen penyuka kerajinan tangan, menjadi segmen korporat.

 

“Trasty menerapkan sistem bertumbuh. Kita tidak bisa terus-terusan bertahan pada satu ide produk saja, karena selera pasar berkembang, kompetitor juga makin kreatif dan bertambah terus. Sekarang ini produk yang paling banyak dicari justru yang kecil-kecil (kerajinan tangan),” katanya.

Koloni ala Semut

Bagi Naneth, berbisnis itu bukan persoalan mencari uang semata. Bisnis dimaknainya sebagai jalan untuk menjadi saluran berkat bagi sesama. Oleh karena itu, dia memilih bisnis dengan sistem koloni layaknya semut.

“Lebah atau semut selalu bekerja dalam koloni. Bekerja bersama untuk mendapat kehidupan bersama. Saya rasa itu cukup masuk akal diterapkan dalam bisnis. Jadi bisnis tidak perlu berdiri sendiri-sendiri dan saling bersaing satu sama lain. Sebaliknya, mencontoh cara semut, kita bisa berkoloni, bersama-sama mencari uang tanpa perlu saling menjatuhkan,” urainya.

Analogi koloni semut ini diterapkannya dalam mengelola Trasty. Dia berkoloni dengan para pengrajin dan pelaku UKM untuk menghasilkan produk yang nantinya akan dijual dengan brand Trasty Batik. Bahkan, para narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bulu, Semarang, pun dia libatkan dalam koloninya. Produk rajutan tangan para penghuni Lapas dipajangnya di galeri Trasty, bersanding dengan produk kerajinan tangan lainnya. “Tujuan saya untuk memberdayakan mereka. Mereka yang bikin rajutan, saya membantu menjualkan. Berbagi rasa, berbagi rezeki,”tutur ibu tiga anak ini.

Dalam berbisnis, dikatakan Naneth, dibutuhkan mental bertahan. Sebab ada masa pasang surut yang biasa melanda atau dialami para pelaku usaha. Di sinilah mental bertahan dibutuhkan. Dia tidak menampik bahwa dia terkadang merasa risau saat usahanya sedang sepi. Namun, pada akhirnya dia memilih mensyukuri apapun keadaan usahanya, dan tetap menjalankan bisnisnya seperti biasa. Naneth meyakini, musim kering tidak akan berlangsung selamanya. Musim hujan akan datang, dan oleh sebab itu, dia harus mempersiapkan saluran air yang baik supaya tidak terjadi banjir.

“Beberapa orang kadang meratapi masa-masa saat dagangan tengah sepi, lalu kemudian kewalahan saat orderan lagi banyak-banyaknya. Saat usaha sedang sepi, justru itu adalah kesempatan untuk tetap berproduksi dan berkreasi. Sehingga saat orderan membludak, masih ada produk yang bisa dijual,” katanya. [LAU]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *